Prihatin PSSI Terus Lakukan Naturalisasi, Dali Tahir Ingatkan Puan Konsep Berdikari Presiden Soekarno
![]() |
| Timnas Indonesia. (PSSI) |
Penulis: Azhari Nasution
Mantan Komite Etik FIFA Dali Tahir merasa prihatin dengan tindakan Erick Thohir tersebut. Begitu juga dengan keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) yang memuluskan upaya Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.
“Miris memang melihat tindakan PSSI pimpinan Erick Thohir yang terus melakukan naturalisasi pemain tanpa henti. Apalagi, anggota DPR RI mendukungnya. Inilah akibat kalau PSSI dipimpin pejabat yang sudah jelas melanggar statuta FIFA,” kata Dali Tahir saat dihubungi Minggu (7/9/2025).
Terakhir, PSSI menaturalisasi lima pemain yang mendapat persetujuan dari Komisi X dan Komisi XIII DPR RI beberapa waktu lalu. Yakni, dua pemain putra, Miliano Jonathans dan Mauro Nils Zijlstra dan tiga pemain putri, Isabel Corian Kopp, Pauline Jeannette van de Pol, dan Isabelle Nottet.
Sebagai alat kontrol, Dali Tahir melihat DPR RI tidak menjalankan fungsinya dengan baik dan tidak memikirkan dampak terhadap naturalisasi yang jumlahnya semakin banyak. “Naturalisasi pemain sudah melebihi jumlah sebuah kesebelasan itu secara otomatis akan membunuh impian Anak Negeri untuk membela Merah Putih. Ini sama saja anggota DPR RI mendukung Erick Thohir membangun “Istana Pasir” di Sepakbola,” tegasnya.
“Saya hanya mengingatkan bu Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI tentang konsep Berdikari yang diusung kakeknya, Presiden Soekarno dalam membangun sepakbola Indonesia. Tolong dipikirkan nasib Anak-anak Negeri yang punya mimpi menjadi pemain Timnas Indonesia,” lanjutnya.
Selain mengingatkan masalah nasib Anak Negeri, Dali juga meminta anggota DPR RI mengecek terkait paspor seluruh pemain yang telah dinaturalisasi PSSI. “Saya hanya bisa mengingatkan bahwa Belanda itu mensahkan dwi kewarganegaraan. Tolong dipastikan paspor mereka sudah dicabut atau belum. Ini terkait dengan ketentuan Undang-Undang dimana Indonesia hanya mengenal tunggal kewarganegaraan,” tegasnya lagi.
Lebih jauh Dali Tahir mengungkapkan, dirinya tidak yakin jika PSSI tidak mengeluarkan anggaran untuk melakukan naturalisasi. “Tak mungkin mereka yang direkrut PSSI itu tidak ada kompensasi. Perlu dicatat pemerintah Belanda itu sangat memperhatikan tingkat kesejahteraan warganya. Saudara saya itu banyak menjadi warga negara Belanda. Mereka menolak kembali menjadi WNI karena alasan kesejahteraan,” tandasnya.
Sebagai masukan bagi anggota DPR RI, Dali menegaskan, tindakan Erick Thohir yang terus melakukan naturalisasi itu sebagai bukti bahwa PSSI dibawah kepemimpinannya tidak memiliki konsep membangun sepakbola Indonesia dan hanya mementingkan ambisi pribadi dalam upaya meloloskan Tim Indonesia ke Piala Dunia 2026 dengan jalan pintas.
“Jalan pintas yah melakukan naturalisasi. Perlu dicatat, sepakbola itu bukan hanya bicara skill saja tetapi juga masalah nasionalisme. Tidak ada jaminan naturalisasi itu bisa memastikan Timnas Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia 2026,” tegasnya.
Jalan pintas tanpa jaminan yang dilakukan Erick Thohir tersebut, jelas Dali Tahir, ibaratkan membangun “Istana Pasir” yang terlihat indah tetapi rapuh. “Selama PSSI dipimpin Erick Thohir tidak ada kompetisi usia dini yang menjadi pondasi sepakbola. Begitu juga pebaikan kompetisi. Makanya, saya menyebut Erick Thohir telah sukses membangun “Istana Pasir” yang merupakan sebuah fatamorgana,” jelasnya.
Konsep Berdikari
Kalimat Berdikari atau "Berdiri di atas Kaki Sendiri" yang diucapkan Presiden Soekarno perlu diingat kembali menghadapi persaingan global saat ini. Apalagi, konsep ini menekankan kemandirian bangsa Indonesia dalam berbagai bidang.
Presiden Soekarno telah membuktikan konsep Berdikari tersebut bisa berhasil lewat sepakbola. Bukan saja sukses menjadikannya sebagai salah satu media membentuk karakter bangsa dalam proses national building, tetapi juga membangun prestasi Timnas Indonesia dengan baik.
Kiprah tim sepakbola Indonesia dalam kancah internasional dimulai pada perhelatan Asian Games di New Delhi, India tahun 1950. Pada kompetisi tersebut tim sepakbola Indonesia mengirimkan 18 pemain yang dipimpin pelatih asal Singapura Choo Seng Quee.
Pada tahun 1954, tepatnya pada Asian Games II Manila, Timnas sepakbola Indonesia dipimpin oleh pelatih asal Yugoslavia, Tony Pogacnik mampu menembus babak semifinal.
Tidak hanya itu saja Tony Pogacnik mampu membentuk Pasukan Garuda yang tangguh tanpa pemain Hindia-Belanda. Bahkan, mereka membuat kejutan dengan melaju ke perempat final Olimpiade Melbourne 1956.
Lawannya bukan kaleng-kaleng, mereka adalah Uni Soviet. Beruangnya sepak bola benua biru kala itu. Dalam pertandingan dengan hasil tanpa gol tersebut, Timnas Indonesia yang diperkuat pemain lokal di antaranya Rusli Ramang, Ramli dan Ramlan (dua bersaudara dari PSMS), Yusuf Siregar (winger lincah), Maulwi Saelan (kiper), Him Tjiang, Kiat Sek dan Tan Lìong Houw. Sedangkan Soviet diisi sekaliber pemain kelas dunia yang ternama semisal Lev Yashin, Igor Netto, Eduard Streltsov, dan Valentin Ivanov.
Dari segi postur tubuh, pemain Indonesia, yang notabenenya berpostur kecil, jelas kalah dengan Soviet. Namun, ini adalah tentang keberanian mereka meladeni pemain Uni Soviet. Sikap ngotot Timnas Indonesia melakukan perlawanan dan membentuk pertahanan kokoh hingga akhir pertandingan dengan skor imbang tanpa gol tersebut menjadi buah bibir. Bahkan, Presiden FIFA, Sir Stanley Rous sampai melontarkan pujian betapa sempurnanya defens Timnas Indonesia.
“Bicara sepakbola itu bukan hanya soal skill tetapi jiwa nasionalisme. Nah, patriotisme yang ditunjukkan Saelan dan kawan-kawan itulah membuat defens Indonesia menjadi sempurna sehingga menyulitkan Soviet meraih kemenangan,” jelas Dali.
Gelombang Naturalisasi
Gelombang pemain naturalisasi melanda sepakbola Indonesia. Di era Erick Thohir sudah tercatat 24 pemain sepakbola telah menjadi WNI dan bisa membela Timnas Indonesia.
Berikut adalah pemain yang mendapat status WNI untuk membela Timnas Indonesia lewat proses naturalisasi era Erick Thohir :
1. Ivar Jenner
2. Rafael Struick
3. Justin Hubner
4. Jay Idzes
5. Nathan Tjoe-A-On
6. Thom Haye
7. Ragnar Oratmangoen
8. Calvin Verdonk
9. Jens Raven
10. Maarten Paes
11. Mees Hilgers
12. Eliano Reijnders
13. Kevin Diks
14. Ole Romeny
15. Dion Markx
16. Tim Geypens
17. Emil Audero
18. Dean James
19. Joey Pelupessy
20. Miliano Jonathans
21. Mauro Nils Zijlstra
22. Isabel Corian Kopp
23. Pauline Jeannette van de Pol
24. Isabelle Nottet. ***
| Kategori | : | Gelanggang, Mimbar Bertuah, Binawidya |










