Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Atasi Genangan Langganan, Pemkot Pekanbaru Kebut Proyek Drainase di 6 Ruas Jalan Prioritas
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Atasi Genangan Langganan, Pemkot Pekanbaru Kebut Proyek Drainase di 6 Ruas Jalan Prioritas
2
Awas Sanksi Tegas, Dishub Pekanbaru Larang Parkir di Bahu Jalan Depan Living World
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Awas Sanksi Tegas, Dishub Pekanbaru Larang Parkir di Bahu Jalan Depan Living World
3
Pusat Kota Pekanbaru Bakal Disulap Mirip Shibuya, Bundaran Jalan Sudirman Dilengkapi Videotron Raksasa
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Pusat Kota Pekanbaru Bakal Disulap Mirip Shibuya, Bundaran Jalan Sudirman Dilengkapi Videotron Raksasa
4
Mabes Polri Larang Personel Isap Vape, Antisipasi Narkotika Cair Beredar di Pekanbaru
Nasional
5 jam yang lalu
Mabes Polri Larang Personel Isap Vape, Antisipasi Narkotika Cair Beredar di Pekanbaru
5
Pemprov Riau Gelar Pasar Murah di Empat Titik Pekanbaru, Cek Jadwal Lengkap dan Lokasinya
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Pemprov Riau Gelar Pasar Murah di Empat Titik Pekanbaru, Cek Jadwal Lengkap dan Lokasinya
6
Pemkot Pekanbaru Muluskan Jalan Puyuh Mas, Anggota DPRD Hamdani MS Ingatkan PR Perbaikan Drainase
Parlemen
4 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Muluskan Jalan Puyuh Mas, Anggota DPRD Hamdani MS Ingatkan PR Perbaikan Drainase
Home  /  Berita  /  Kabar Bertuah

Tragedi Bocah Sukabumi Meninggal, Ketika Negara Terlambat Hadir untuk Warga Rentan

Tragedi Bocah Sukabumi Meninggal, Ketika Negara Terlambat Hadir untuk Warga Rentan
Wamensos Agus Jabo Priyono Ajak Masyarakat Bangun Cara Pandang Positif untuk Penyandang Disabilitas, Jakarta (3/12/2024). (Foto: liputan6.com/ade nasihudin).
Rabu, 20 Agustus 2025 17:35 WIB

JAKARTA – Kematian Raya, bocah tiga tahun asal Desa Cianaga, Sukabumi, menyisakan pertanyaan besar tentang sejauh mana negara hadir untuk melindungi warganya yang miskin dan rentan. Raya meninggal dalam kondisi tubuh dipenuhi cacing gelang, sebuah tragedi yang mencerminkan kegagalan sistem kesehatan dan sosial.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, menyatakan belasungkawa dan memastikan tim Kementerian Sosial turun langsung ke lokasi. “Saat ini tim kita sudah berada di sana, sudah ditangani tim Dinsos juga,” kata Agus Jabo, Rabu (20/8/2025).

Orangtua Raya juga menjadi sorotan. Ayahnya mengidap TBC, sementara ibunya diduga mengalami gangguan mental. Keduanya kini menjalani pemeriksaan kesehatan di Bandung dengan pendampingan pihak kecamatan.

“Kalau hasil tes kesehatan menunjukkan ibunya memang mengalami gangguan mental, tentu akan ada intervensi,” jelas Agus Jabo.

Fakta lain yang terungkap, Raya memiliki kakak berusia tujuh tahun. Kondisinya masih diperiksa, untuk memastikan apakah ia juga mengalami masalah kesehatan seperti adiknya. 

Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, menjelaskan bahwa Raya tumbuh dalam kondisi memprihatinkan. Ia kerap bermain di kolong rumah bersama ayam, dengan perkembangan motorik yang lambat. “Sempat demam, dibawa ke klinik, ternyata punya penyakit paru,” katanya.

Wardi menambahkan, bantuan dari desa sebenarnya sudah ada, mulai dari pemberian makanan tambahan hingga pembangunan ulang rumah keluarga Raya yang sempat ambruk. Namun, keterbatasan orangtua dalam mengambil keputusan medis memperburuk keadaan.

“Sayangnya, ketika kondisinya memburuk, keluarganya tidak segera membawanya ke rumah sakit. Mereka tidak menyangka separah itu,” ujarnya.

Tragedi Raya menyingkap persoalan klasik: bantuan sosial yang tidak merata, akses kesehatan yang sulit dijangkau, dan kemiskinan struktural yang dibiarkan berulang. Pertanyaan pun muncul: berapa banyak anak lain di pelosok negeri yang hidup dengan risiko serupa, tanpa pernah tercatat oleh negara?***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:liputan6.com
Kategori:Kabar Bertuah, Warga Bertuah
wwwwww