Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
3
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
4 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Home  /  Berita  /  Sepakbola

Perubahan Iklim Menyebabkan Pergeseran Habitat yang Signifikan bagi Spesies Tertentu, Kepunahan Lokal dan Global

Perubahan Iklim Menyebabkan Pergeseran Habitat yang Signifikan bagi Spesies Tertentu, Kepunahan Lokal dan Global
Niken Rahayu Putri
Sabtu, 22 Juni 2024 18:22 WIB
Penulis: Niken Rahayu Putri

PERUBAHAN iklim terus terjadi di beberapa dekade terakhir, yang banyak menyebabkan perubahan signifikan seperti pancaroba, pergeseran sistem tanam, dan terganggunya habitat satwa. Menurut data yang dikeluarkan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) selisih antara rata-rata suhu permukaan level global antara tahun 1850-1900 (sebagai parameter pengukuran iklim) dengan periode tahun 2011-2020 meningkat 1.09 dalam satu setengah abad. Naiknya suhu permukaan bumi setengah abad terakhir lebih cepat daripada naiknya suhu permukaan bumi 2000 tahun terakhir. IPCC menjelaskan kenaikkan suhu permukaan bumi dominan disebabkan oleh perilaku manusia. Selain disebabkan oleh prilaku manusia, perubahan suhu permukaan bumi juga disebabkan oleh aktivitas albedo dan gunung berapi. Dimana sumbang sih dari dua peristiwa alam ini sekitar -0,1°C dan +0,1° C.

Kenaikan suhu permukaan bumi yang mencapai ± 1 memiliki pengaruh yang erat tehadap naiknya permukaan air laut. Selama dekade 2013-2022 kenaikkan permukaan air laut menyentuh angka 4,62 mm/tahun. Pencairan lapisan es dan glester akibat efek gas rumah kaca menjadi menyumbang terbanyak yaitu sekitar 44% kenaikan permukaan air laut. Akibat naiknya permukaan air laut berdampak pada rusaknya habitat terumbu karang dan hutan bakau. Terumbu karang sangat rentan dengan pemanasan laut yang menyebabkan perubahan warna terhadap terumbu karang. Terumbu karang seperti Great Barier Reef di Australia akan memutih jika air laut memiliki suhu tinggi. Sedangkan hutan bakau tidak akan bisa memecah ombak karena volume air yang terus meningkat. Selain itu, kenaikan permukaan air laut menyebabkan banjir di daerah pesisir dan mempercepat erosi laut di daerah tropis.

Hutan hujan tropis seperti amazon dan hutan Kalimantan adalah rumah bagi 30 juta lebih spesies seperti harimau, burung, serangga, dan primata. Peningkatan suhu yang terjadi secara mendadak, akan menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi kurang sehingga hewan- hewan akan rentan terjangkit kelaparan. Pada tahun 2019 PBB melaporakan bahwa hampir 1 juta spesies akan mengalami kepunahan akibat perubahan iklim dan ulah manusia.

Menurut ilmuan senior perubahan iklim Lee Hannah, hewan tidak akan menyesuaikan keadaan dengan perubahan iklim, mereka justru akan mencari iklim yang cocok dengan mereka. Hal ini akan semakin membawa spesies-spesies ke jurang kepunahan karena mereka akan mencari tempat baru seperti daerah sekitar kutub untuk menghindari naikknya suhu di habitat asal mereka. Penelitian yang dilakukan Lee Hannah menunjukkan bahwa melestarikan hutan hujan tropis sebanyak 30% dapat membantu menyelamatkan setengah tingkat kepunahan. Pelestraian keanekaragaman hayati di hutan hujan tropis menjadi kunci dalam memprtahankan ekosistem dari perubahan iklim.

Tidak hanya berdampak pada hutan hujan tropis, habitat dan spesies pada padang rumput dan savana juga akan terganggu akibat perubahan iklim. Padang rumput dan savana merupakan 37 % wilayah daratan di dunia dan rumah bagi seperempat populasi tumbuhan serta hewan. Banyak dari spesies tersebut pada umumnya bergantung pada rerumputan seperti gajah, jerapah, rusa dan berbagai hewan herbivora lainnya. Tidak hanya herbivora, hewan karnivora seperti singa, haina juga mengantungkan hidup terhadap rumput demi menjaga eksosistemnya. Perubahan iklim mengurangi banyaknya padang rumput dan savana dari vegetasi aslinya. Seperti beberapa tempat di stepa Mongolia yang mengalami pemanasan tiga kali lebih tinggi dari rata-rata global. Selain itu, perubahan iklim juga diperkirakan akan meningkatkan intensitas curah hujan sehingga akan menambah populasi pohan disbanding padang rumput. Padang rumput yang basah ini berdampak tidak baik pada habitat satwa liar. Perlindungan dan pengelolaan padang rumput yang efektif jika ikut dikombinasikan pemulihan habitat yang hilang.

Aliran sungai dan danau juga akan berdampak saat perubahan iklim terjadi, terutama peningkatan suhu air, perubahan habitat, peningkatan keanekargaman mikroba dan lelehan salju pada sungai. Suhu air yang lebih tinggi dapat mengurangi kadar oksigen yang terlarut sehingga mempengaruhi kualitas air dan kehidupan akuatik. Spesies yang sensitif terhadap suhu seperti ikan trout dan salmon, akan berjuang bertahan hidup dengan bermigrasi ke daerah yang lebih dingin. Glester dan salju yang mencair juga merupakan dampak akibat perubahan iklim sehingga menyebabkan terhambatnya aliran air yang menjadi cikal bakal kepunahan dari spesies di danau atau sungai tersebut. Peningkatana jumlah mikroba pada sungai dan danau akan menurunkan kualitas air sehingga akan menimbulkan malah sanitasi yang akan berdampak pada kesehatan manusia.

Tidak hanya di wilayah perairan, namun habitat dan spesies di pegunungan juga akan terganggu saat terjadi perubahan iklim. Ada pun spesies pegunungan seperti elang emas, domba gunung, serigala, beruang hitam, rusa ekor putih, dan macan tutul salju akan naik ke daratan yang lebih tinggi saat terjadi peningkatan suhu. Namun, akan terjadi persaingan bertahan hidup antara spesies pendatang dengan spesies alami di daratan yang lebih tinggi. Persaingan ini mencakup persaingan makanan dan otoriter wilayah sehingga berdampak pada terganggunya habitat spesies di pegunungan yang akan berujung pada kepunahan.

Dengan demikian, perubahan iklim dan dampaknya yang luas termasuk pergeseran habitat dan kepunahan spesies tertentu yang menjadi tugas nyata yang dihadapi bumi saat ini. Pergeseran memaksa spesies untuk beradaptasi dengan kondisi baru yang tidak selalu memungkinkan dan mengakibatkan kepunahan lokal dan global. Melihat perubahan iklim dengan konsekuensi yang tidak main-main, mendorong aksi dan partisipasi dalam upaya mitigasi. Semua elemen lapisan masyarakat memainkan peran yang sangat penting dalam melindungi keanekaragaman hayati yang terganggu akibat perubahan iklim. ***

Penulis adalah mahasiswa semester 8 Jurusan Fisika, Universitas Andalas Padang

Kategori:Sepakbola
wwwwww