Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
7 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Opini

Rombongan Pengantar Pangan Dihadang Peluru, Peneliti BRIN Desak Jeda Kemanusiaan di Papua

Rombongan Pengantar Pangan Dihadang Peluru, Peneliti BRIN Desak Jeda Kemanusiaan di Papua
Koops TNI Habema saat mengevakuasi dua jenazah di Yahukimo, Papua, Kamis (23/7/2026).(Foto: Antara/Ho-Pen Koops Habema)
Minggu, 13 September 2026 16:15 WIB

JAYAWIJAYA - Niat mengantarkan bantuan pangan ke daerah pelosok berakhir tragis bagi tiga aparatur sipil negara dari Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Aprida Rapi (49), Alfonsius Albinus Meha (35), dan Willi Mbuik (25) tewas seketika usai rombongan mereka yang berjumlah delapan orang diberondong tembakan oleh terduga kelompok kriminal bersenjata di Distrik Muliama, Papua Pegunungan, Rabu (9/9/2026). Rombongan tersebut baru saja bertolak dari Kampung Kimbim, Distrik Asologaima, saat rentetan peluru menghentikan perjalanan mereka.

Kejadian memilukan ini memantik reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk dorongan perbaikan pola penanganan keamanan. Peneliti BRIN, Prof Cahyo Pamungkas menilai pemerintah harus berani mengambil langkah penghentian kekerasan fisik secara menyeluruh sebagai pembuka jalan menuju perdamaian sejati, bukan sekadar membalas serangan.

"Pemberlakuan jeda kemanusiaan, penghentian konflik tembak-menembak dalam waktu tertentu. Kemudian ada penghentian permusuhan, kemudian dialog dengan pihak-pihak yang melakukan kekerasan," papar Cahyo, Sabtu (12/9/2026).

Berkaca pada penyelesaian konflik di masa lalu, Cahyo menyarankan pemerintah melihat kembali sejarah perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Menurutnya, penghentian kontak senjata dengan pihak pemberontak terbukti efektif meredam jatuhnya korban sipil dan mentransformasikan sengketa fisik menjadi perdamaian bersama. Ia juga menegaskan bahwa kelompok sipil politik seperti United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) maupun faksi bersenjata wajib dilibatkan secara langsung dalam perundingan.

Pendekatan keamanan negara yang selama ini diterapkan dinilai sudah waktunya digeser menjadi pendekatan keamanan manusia yang mengedepankan persuasi. Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) sendiri telah melontarkan kecaman atas tewasnya ketiga ASN tersebut. Mereka menuntut pengusutan tuntas sembari mendesak negara memberikan jaminan perlindungan bagi warga sipil di wilayah konflik.

Di lapangan, aparat kepolisian masih memburu para terduga pelaku. Berdasarkan hasil penyisiran di lokasi kejadian, Satgas Operasi Damai Cartenz mengamankan barang bukti berupa selongsong peluru kaliber 5,56 milimeter dan 9 milimeter. Ciri-ciri kelompok bersenjata yang menghadang rombongan Dinas Pertanian tersebut juga telah dikantongi oleh tim operasi untuk proses pengejaran.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Opini
wwwwww