Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
17 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
2
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Parlemen
17 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
3
Kecelakaan Maut di Jalan Siak II Pekanbaru, DPRD Desak Pemasangan Lampu Penerangan
Parlemen
17 jam yang lalu
Kecelakaan Maut di Jalan Siak II Pekanbaru, DPRD Desak Pemasangan Lampu Penerangan
4
Polisi Sisir Enam Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru, Satu Pengunjung Positif Narkoba Diamankan
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Polisi Sisir Enam Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru, Satu Pengunjung Positif Narkoba Diamankan
5
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

Pemerintah Tahan Kenaikan BBM di Tengah Krisis Geopolitik Timur Tengah

Pemerintah Tahan Kenaikan BBM di Tengah Krisis Geopolitik Timur Tengah
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa
Senin, 09 Maret 2026 15:15 WIB

JAKARTA - Lonjakan harga minyak mentah global yang sukses menembus level 100 dolar AS per barel disikapi pemerintah dengan langkah antisipatif. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan difungsikan sebagai peredam kejut agar fluktuasi harga energi dunia tidak langsung memukul ekonomi rakyat.

"Nanti kalau harga minyak dunia naik pun, kita akan coba absorb lewat APBN, dan kita akan mengendalikan semaksimal mungkin," papar Purbaya di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026).

Lonjakan ekstrem ini dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik menyusul serangan militer ke sejumlah fasilitas energi di Teheran, Iran. Perdagangan minyak mentah jenis Brent meroket tajam hingga menyentuh 111,04 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di posisi 107,40 dolar AS per barel.

Melihat situasi pasar yang kian memanas, Purbaya meminta masyarakat tidak terburu-buru panik. Ia menegaskan evaluasi fiskal menggunakan parameter rata-rata harga tahunan, sehingga fluktuasi harian yang liar tidak serta-merta menjadi dasar penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

"Jangan terlalu cepat-cepat menyimpulkan harga akan 100 terus. Kita monitor dari waktu ke waktu dan saya tidak akan terlambat mengambil keputusan kalau diperlukan," urainya.

Ia menjamin belum ada rencana mencabut atau mengevaluasi ulang subsidi energi dalam waktu dekat. Prioritas utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas daya beli masyarakat sembari terus memantau pergerakan harga komoditas tersebut.

"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk merubah subsidi BBM dalam pengertian menaikkan harga BBM. Karena kita lihat seperti apa kondisinya. Nanti kalau sebulan semuanya berubah, kita akan evaluasi," tambahnya.

Selain menyiagakan instrumen fiskal, pemerintah juga terus mengawasi jalur distribusi energi strategis, termasuk Selat Hormuz. Langkah pengawasan ini dinilai sangat krusial untuk memastikan langkah mitigasi krisis energi nasional tetap berjalan terkendali di tengah ketidakpastian global.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Pasar & Niaga
wwwwww