Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
19 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
2
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Parlemen
19 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
3
Kecelakaan Maut di Jalan Siak II Pekanbaru, DPRD Desak Pemasangan Lampu Penerangan
Parlemen
19 jam yang lalu
Kecelakaan Maut di Jalan Siak II Pekanbaru, DPRD Desak Pemasangan Lampu Penerangan
4
Polisi Sisir Enam Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru, Satu Pengunjung Positif Narkoba Diamankan
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Polisi Sisir Enam Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru, Satu Pengunjung Positif Narkoba Diamankan
5
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
Home  /  Berita  /  Kampus

Hadapi Triple Shock APBN, PKS Minta Pemerintah Solid, Terbuka, dan Memihak Rakyat Kecil

Hadapi Triple Shock APBN, PKS Minta Pemerintah Solid, Terbuka, dan Memihak Rakyat Kecil
Mulyanto. (Ist)
Senin, 09 Maret 2026 17:24 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Tekanan terhadap APBN saat ini semakin meningkat akibat dinamika ekonomi global yang tidak menentu. Karenanya, Pemerintah perlu merespons situasi ini secara solid, terbuka, dan berpihak kepada kepentingan masyarakat luas, khususnya rakyat kecil yang paling rentan terhadap gejolak ekonomi.  Demikian disampaikan Mulyanto, yang Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PKS, kepada media (Senin 9/3/2026).

Menurut Mulyanto, yang Anggota DPR RI periode 2019-2024, saat ini perekonomian nasional menghadapi triple shock yang berpotensi menekan keseimbangan fiskal negara. Tekanan tersebut berasal dari lonjakan harga minyak dunia, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, serta meningkatnya perhatian lembaga pemeringkat internasional terhadap risiko fiskal Indonesia.

"Ini kondisi yang serius. Potensial meningkatkan resiko fiskal kita", tambah Mulyanto.

Menurut Mulyanto, harga minyak acuan global Brent crude oil hari ini telah menembus kisaran USD118 per barel Senin (9/3), jauh di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN yang dipatok pada angka USD70 per barel. Selisih harga yang cukup besar ini berpotensi meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi yang harus ditanggung negara.

Di saat yang sama, penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah juga memperbesar tekanan fiskal. Pelemahan nilai tukar tidak hanya meningkatkan biaya impor energi, tetapi juga berdampak pada pembiayaan utang dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Tekanan tersebut semakin diperhatikan oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch Ratings yang telah menurunkan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif. Meskipun peringkat Indonesia masih berada pada level investment grade, peringatan ini menjadi sinyal penting agar pemerintah menjaga disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan ekonomi.

Dalam menghadapi tekanan tersebut, menurut Mulyanto, pemerintah perlu menunjukkan soliditas kebijakan dan komunikasi yang jelas kepada publik. "Perbedaan penekanan pandangan di ruang publik antar pejabat pemerintah, seperti Menteri Keuangan dengan Menteri ESDM, tidak boleh menimbulkan kesan ketidakpastian arah kebijakan ekonomi nasional," imbuhnya.

Selain itu, menurut Mulyanto, pemerintah perlu mengedepankan transparansi dalam merumuskan langkah-langkah mitigasi fiskal. Publik berhak mengetahui berbagai skenario kebijakan yang sedang dipersiapkan untuk menjaga stabilitas APBN di tengah gejolak harga energi dan dinamika pasar global.

Yang tidak kalah penting, setiap langkah kebijakan Pemerintah harus tetap memihak kepada rakyat kecil. "Kebijakan fiskal yang diambil untuk menjaga stabilitas APBN tidak boleh mengabaikan perlindungan terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah yang paling terdampak oleh kenaikan harga energi dan inflasi," tegasnya. ***

wwwwww