Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
2
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Percantik Jantung Kota, Pemkot Pekanbaru Sulap U-Turn Sudirman Jadi Ruang Terbuka Hijau
3
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
Marpoyan Damai
9 jam yang lalu
Telan Dana Rp5 Miliar Tanpa APBD, Tugu Simpang Sebidang Pekanbaru Mulai Dibangun Desember
4
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Satlantas Polresta Pekanbaru Gelar Operasi Patuh, 38 Pelanggar Ditilang dan Pengendara Taat Diberi Cokelat
5
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Akses Wisata Makin Mulus, Jalan Lingkar Danau Buatan Pekanbaru Segera Diaspal
Home  /  Berita  /  Kampus

Harga Minyak Tembus USD 92 Per Barel, PKS: Pemerintah Jangan Naikkan BBM Bersubsidi Dulu

Harga Minyak Tembus USD 92 Per Barel, PKS: Pemerintah Jangan Naikkan BBM Bersubsidi Dulu
Mulyanto. (Ist)
Sabtu, 07 Maret 2026 16:02 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Harga minyak acuan global Brent crude oil hari ini, Sabtu (7/3) telah menembus angka USD 92 per barel.  Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyampaikan bahwa apabila harga minyak tembus USD92 per barel, maka defisit APBN akan melampaui batas UU, yang 3 persen PDB, jika tidak dilakukan penyesuaian kebijakan fiskal.

Untuk itu Mulyanto, yang Ketua Majelis Pertimbangan Pusat PKS, meminta Pemerintah menjelaskan rencana penyesuaian kebijakan fiskalnya secara terbuka dan transparan kepada publik dan tidak menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Solar dan Pertalite.

Anggota Komisi Energi DPR RI periode 2019-2024 itu menyebut kebijakan menaikkan harga BBM, secara langsung akan menekan daya beli masyarakat dan memicu tekanan inflasi. Serta memiliki dampak yang luas terhadap biaya transportasi, harga pangan, serta biaya produksi yang pada akhirnya membebani masyarakat luas.

"Kebijakan ini tentu akan menyulitkan masyarakat. Karenanya harus dihindari Pemerintah," tegas Mulyanto.

"Secara kreatif pemerintah mesti meninjau dan menyesuaikan kembali pos-pos pengeluaran anggaran yang tidak tepat sasaran atau tidak efisien, selain mengoptimalkan tambahan pemasukan dari windfall profit ekspor komoditas seperti batubara, CPO, nikel dll," tambahnya.

Menurut Mulyanto, sudah semestinya Pemerintah secara serius melakukan rasionalisasi dan realokasi belanja negara yang tidak prioritas. Peninjauan kembali program-program yang menekan APBN, penjadwalan ulang proyek yang kurang mendesak, serta peningkatan efisiensi belanja negara untuk dapat membuka ruang fiskal tanpa harus membebani masyarakat.

Langkah tersebut juga perlu didukung oleh optimalisasi kontribusi BUMN energi, termasuk dari Pertamina, serta perbaikan ketepatan sasaran subsidi agar penggunaan anggaran negara menjadi lebih efektif.

Mulyanto meminta pemerintah untuk menjalankan kebijakan ini secara prudent dan transparan. Publik berhak mengetahui simulasi dampak harga minyak terhadap APBN serta daftar program belanja yang akan direvisi. Keterbukaan kebijakan akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus memastikan bahwa stabilitas fiskal dijaga tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.

Untuk diketahui lonjakan harga minyak global, yang jauh di atas asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang ditetapkan sebesar USD70 per barel, telah menjadi risiko nyata terhadap stabilitas fiskal nasional.

Selisih sekitar USD 20 per barel minyak global hari ini dari asumsi APBN menimbulkan tekanan besar pada belanja subsidi dan kompensasi BBM yang harus ditanggung negara. Sementara angka tersebut masih dinamis. ***

wwwwww