Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Operasi Patuh Lancang Kuning 2026 Dimulai, Pengendara tanpa Helm SNI di Pekanbaru Bakal Ditindak
2
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
Balai Kota
10 jam yang lalu
Gerbong Mutasi Pemkot Pekanbaru Bergerak, Posisi Kepala Bappeda dan Dishub Berganti
3
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Proyek IPAL Mangkrak 5 Bulan, Warung Warga di Jalan Cempaka Pekanbaru Kebanjiran dan Merugi
Home  /  Berita  /  Hukum

Pengabdian Puluhan Tahun Dibayar Murah, Guru Terima Pil Pahit Efisiensi Pemerintah Daerah

Pengabdian Puluhan Tahun Dibayar Murah, Guru Terima Pil Pahit Efisiensi Pemerintah Daerah
Sulianto Indria Putra bersama Agustinus, guru honorer di pedalaman Kupang, NTT, yang gajinya dipotong dari Rp600.000 menjadi Rp223.000 per bulan akibat efisiensi anggaran.
Jum'at, 27 Februari 2026 07:25 WIB

KUPANG - Kebijakan penghematan kas daerah justru memakan korban dari kalangan pendidik akar rumput. Di pedalaman Nusa Tenggara Timur, keringat dan dedikasi mencerdaskan anak bangsa hanya dihargai dengan upah ratusan ribu rupiah.

Kenyataan pahit ini menimpa Guru Honorer, Agustinus. Pria yang telah mengabdi tanpa lelah selama 23 tahun tersebut terpaksa menelan kekecewaan setelah hak bulanannya disunat dari Rp600.000 menjadi tidak sampai setengahnya dengan dalih efisiensi anggaran.

"Terima Rp223.000 per bulan," ungkapnya melansir video dari akun Instagram @leksulii, Rabu (25/2/2026).

Penderitaan ini rupanya menjadi potret kolektif di wilayah tersebut. Beban hidup yang tak kalah berat dipikul oleh Kepala Sekolah, Wesli. Sosok pemimpin satuan pendidikan ini secara blak-blakan mengaku mendapat bayaran yang sangat jauh dari standar kelayakan untuk menghidupi keluarganya.

"Terus terang saya tenaga honor satu bulan Rp100.000," bebernya memilukan.

Kondisi tidak manusiawi yang dialami pahlawan tanpa tanda jasa ini langsung meledak di media sosial dan memantik simpati publik. Miliarder Muda Indonesia, Sulianto Indria Putra, menjadi salah satu pihak yang tidak tinggal diam. Ia bersama timnya langsung menyalurkan bantuan finansial serta materiil sebagai bentuk jaminan dukungan jangka panjang bagi dedikasi kedua pendidik tersebut.

Lewat platform digital, Sulianto melontarkan kritik keras terhadap abainya pemangku kebijakan. Ia mempertanyakan logika birokrasi yang menuntut lahirnya generasi masa depan yang cerdas, namun membiarkan kesejahteraan para pengajarnya hancur.

"Dengan penghasilan Rp100.000 hingga Rp223.000 per bulan, mustahil kebutuhan pokok satu keluarga terpenuhi. Dan ketika kebutuhan dasar saja tidak tercukupi, bagaimana mungkin mereka bisa fokus mendidik generasi masa depan?," tulis akun @suliantoindriaputra.

Langkah pemotongan upah tenaga pengajar secara sepihak ini dikecam habis-habisan oleh warganet. Alasan efisiensi dinilai sama sekali tidak masuk akal jika harus menumbalkan ujung tombak pendidikan di daerah terpencil.

"Memotong gaji guru dari 600rb ke 200rb dengan alasan efisiensi adalah penghinaan terhadap ilmu pengetahuan! Jangan harap bangsa ini besar kalau perut gurunya dibiarkan lapar," kecam akun @leksulii.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inews.id
Kategori:Hukum
wwwwww