Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
Gelanggang
20 jam yang lalu
PSPS Pekanbaru Pasang Kuda-Kuda Hadapi Adhyaksa FC Bekasi, Ahyar Ilyas Ingatkan Pemain Jaga Fokus
2
Kecelakaan Maut di Jalan Siak II Pekanbaru, DPRD Desak Pemasangan Lampu Penerangan
Parlemen
20 jam yang lalu
Kecelakaan Maut di Jalan Siak II Pekanbaru, DPRD Desak Pemasangan Lampu Penerangan
3
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
Parlemen
20 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Rampungkan Perbaikan Jalan 47 Kilometer, DPRD Beri Dukungan Penuh
4
Polisi Sisir Enam Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru, Satu Pengunjung Positif Narkoba Diamankan
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Polisi Sisir Enam Tempat Hiburan Malam di Pekanbaru, Satu Pengunjung Positif Narkoba Diamankan
5
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Pohon Tumbang Timpa Mobil di Sudirman Pekanbaru, Pengamat Desak Usut Tuntas Pelaku Pembakaran Akar
6
Drama Menit Akhir! Penalti Ditepis, PSPS Pekanbaru Gagal Curi Tiga Poin di Markas Adhyaksa FC
Gelanggang
1 jam yang lalu
Drama Menit Akhir! Penalti Ditepis, PSPS Pekanbaru Gagal Curi Tiga Poin di Markas Adhyaksa FC
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Tenda Pengungsi Jadi Lokasi Rawan Pelecehan, Perempuan Aceh Utara Dihantui Kekerasan Seksual

Tenda Pengungsi Jadi Lokasi Rawan Pelecehan, Perempuan Aceh Utara Dihantui Kekerasan Seksual
Ilustrasi (net)
Jum'at, 13 Februari 2026 05:49 WIB

ACEH UTARA – Tenda pengungsian yang seharusnya menjadi tempat berlindung pascabencana di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, ternyata menyimpan ancaman serius bagi kaum perempuan dan anak. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Aceh mengungkap temuan meresahkan terkait kerentanan keamanan di lokasi tersebut.

Koordinator KontraS Aceh, Azharul Husna membeberkan adanya tujuh dugaan kasus Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang terjadi di tengah situasi darurat. Bentuk kekerasan yang teridentifikasi sangat beragam, mulai dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), kekerasan fisik, hingga pelecehan seksual.

"Jumlah kasus yang kecil dalam situasi darurat justru sering kali menjadi tanda bahwa banyak kekerasan tidak dilaporkan," ungkap Husna, Kamis (12/2/2026).

Menurut aktivis kemanusiaan ini, ancaman justru mengintip saat matahari terbenam. Pola pengungsian yang terjadi saat ini dinilai tidak ramah terhadap keselamatan perempuan. Hunian sementara (Huntara) umumnya hanya dimanfaatkan warga untuk beraktivitas pada pagi dan siang hari.

Sebaliknya, saat sore hingga malam, perempuan dan anak-anak kembali tidur di tenda-tenda darurat yang didirikan di halaman rumah mereka yang rusak. Minimnya penerangan, tidak adanya privasi, serta lemahnya pengawasan menciptakan celah bagi pelaku kejahatan.

"Kondisi ini menciptakan ruang hidup yang rawan, akses air bersih dan fasilitas MCK yang tidak memadai semakin memperparah kerentanan mereka," paparnya.

Husna menegaskan bahwa dampak bencana tidak pernah dirasakan sama rata oleh semua gender. Ketika sistem perlindungan sosial runtuh akibat bencana, tubuh perempuan kerap menjadi sasaran empuk eksploitasi dan kekerasan.

“Dalam situasi bencana, kehilangan rumah bukan satu-satunya ancaman. Tubuh dan keselamatan perempuan justru semakin rentan ketika ruang hidup mereka tidak aman,” pungkasnya.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:rmol.id
Kategori:Warga Bertuah
wwwwww