Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
2
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
18 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
3
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
6 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
2 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
3 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
6
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Penambang Emas Ilegal Berpestapora, Rakyat Bungo Tercekik Krisis Kualitas Air Sungai

Penambang Emas Ilegal Berpestapora, Rakyat Bungo Tercekik Krisis Kualitas Air Sungai
Foto udara kapal tongkang bermuatan batu bara melintasi aliran Sungai Batanghari di Jambi.
Kamis, 29 Januari 2026 07:20 WIB

MUARA BUNGO – Praktik penambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Bungo kini tidak hanya merusak alam, tetapi juga membebani sektor pelayanan publik. Aliran Sungai Batang Bungo yang selama ini menjadi urat nadi warga, kini tercemar hebat hingga memaksa perusahaan pengelola air bersih merogoh kocek lebih dalam untuk proses produksi.

Limbah lumpur dan sisa pembuangan dari aktivitas tambang ilegal tersebut mengubah air yang semula jernih menjadi cokelat pekat. Kondisi ini membuat air baku menjadi sangat sulit diolah, sehingga membutuhkan dosis bahan kimia penjernih dalam jumlah besar agar tetap memenuhi standar konsumsi masyarakat.

Ismail, salah satu operator pengolahan air baku, memaparkan betapa sulitnya menjaga kualitas air di tengah gempuran limbah PETI. Ia mengaku pemakaian bahan kimia meningkat drastis seiring dengan semakin keruhnya air sungai.

“Untuk bahan kimia, sekarang kami membutuhkan jauh lebih banyak. Kalau airnya jernih, kebutuhan bahan bisa dihemat. Tapi dengan kondisi air seperti ini, bahan penjernih terus bertambah,” ungkapnya, Kamis (29/1/2026).

Meskipun biaya operasional membengkak akibat penggunaan bahan penjernih yang berlebihan, pihak pengelola air bersih berupaya agar kualitas distribusi tetap terjaga. Namun, keberlanjutan layanan ini terancam jika sumber air baku terus-menerus dirusak oleh aktivitas ilegal yang tidak tersentuh hukum.

Di sisi lain, pembiaran terhadap aktivitas PETI di sepanjang Sungai Batang Bungo dinilai menjadi bukti lemahnya pengawasan lingkungan di daerah tersebut. Para pelaku tambang ilegal meraup keuntungan pribadi dengan mengorbankan hak ribuan warga atas air bersih yang murah dan sehat.

Warga kini mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum tidak hanya melakukan imbauan, tetapi tindakan nyata di lapangan. Jika penertiban tidak segera dilakukan, biaya produksi yang tinggi dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan tarif air atau bahkan penghentian operasional karena kualitas air baku yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi.***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:metrotvnews.com
Kategori:Balai Kota, Lingkungan
wwwwww