Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
10 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
2
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
13 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
3
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
9 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
4
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
11 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
5
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
9 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
6
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
6 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Home  /  Berita  /  Parlemen

Pengamat: Kursi Kosong Wamenkeu Bisa Jadi “Pintu Masuk” Reshuffle Menteri Lain

Pengamat: Kursi Kosong Wamenkeu Bisa Jadi “Pintu Masuk” Reshuffle Menteri Lain
Arifki Chaniago. (Ist)
Rabu, 28 Januari 2026 14:47 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Kekosongan posisi Wakil Menteri Keuangan usai Thomas Djiwandono dilantik menjadi Deputi Gubernur Bank Indonesia dinilai berpotensi menjadi pintu masuk reshuffle ke kementerian lain. Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, meski bermula dari satu jabatan, dinamika politik sering kali membuat perubahan personalia merembet lebih luas.

“Dalam politik, kursi kosong jarang berhenti sebagai urusan teknis. Ia sering menjadi bola liar yang memicu evaluasi ke pos-pos lain,” kata Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia ini.

Menurutnya, posisi Wamenkeu berada di sektor strategis, sehingga kekosongannya mudah berkembang menjadi sinyal bahwa presiden sedang membaca ulang efektivitas kabinet. Hal inilah yang membuat isu reshuffle lain mulai beredar, termasuk dalam wacana yang ikut diramaiman oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

“Kekosongan ini bisa menjadi efek domino. Bukan berarti reshuffle pasti melebar, tetapi membuka ruang bagi presiden untuk sekalian melakukan penyelarasan di kementerian lain,” ujarnya.

Arifki menilai, apakah reshuffle akan merembet atau tidak sepenuhnya bergantung pada keputusan Presiden Prabowo Subianto. Jika presiden memilih langkah minimal, penggantian bisa berhenti di level wakil menteri. Namun jika presiden menilai ada sektor lain yang perlu diperkuat, reshuffle menteri lain menjadi opsi yang rasional.

“Ini momentum yang sering disebut sebagai sekalian berbenah. Presiden bisa saja memanfaatkan satu kursi kosong untuk menata ulang lebih dari satu pos,” katanya.

Ia menambahkan, tahun 2026 membuat isu ini semakin sensitif karena kabinet mulai memasuki fase pembuktian. Dalam fase tersebut, toleransi terhadap kinerja yang tidak optimal cenderung menurun.

“Di tahun pembuktian, satu masalah jarang diperlakukan sebagai masalah tunggal. Biasanya dibaca sebagai bagian dari gambaran besar,” ujarnya.

Meski demikian, Arifki mengingatkan bahwa reshuffle tetap merupakan hak prerogatif presiden. Kosongnya kursi Wamenkeu, bakal membuat menteri lain panas dingin.

“Tapi yang jelas, kursi kosong Wamenkeu sudah cukup untuk menggoyang radar politik. Dari situ, tafsir reshuffle ke menteri lain menjadi wajar,” pungkasnya. ***

wwwwww