Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
22 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
2
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
9 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
3
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
4
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
6 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
5
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
Kabar Bertuah
8 jam yang lalu
Estetika Kota Bertuah Makin Tertata, Tiga Kilometer Kabel Udara Jalan Paus Dipindah ke Bawah Tanah
6
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
6 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Parlemen

Pengamat: Rakernas PDIP Perlu Mengukur Ancaman Baru di Jawa Tengah

Pengamat: Rakernas PDIP Perlu Mengukur Ancaman Baru di Jawa Tengah
Arifki Chaniago. (Ist)
Minggu, 11 Januari 2026 19:19 WIB
Penulis: Azhari Nasution
JAKARTA - Momentum Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 PDI Perjuangan dinilai menjadi ruang penting untuk membaca ulang peta politik Jawa Tengah. Pernyataan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia yang ingin menjadikan Jawa Tengah sebagai basis elektoral baru menempatkan PDIP pada situasi strategis: apakah PSI diposisikan sebagai lawan langsung, atau justru bagian dari dinamika kekuasaan yang lebih besar bersama Gerindra.

Pengamat politik Arifki Chaniago menilai, Jawa Tengah selama ini bukan hanya lumbung suara PDIP, tetapi juga basis simbolik dan organisatoris. Karena itu, setiap pernyataan politik yang menyasar wilayah ini—termasuk dari PSI—perlu dibaca secara struktural, bukan sekadar phising kompetisi elektoral biasa. PSI dinilai membawa narasi pembaruan dan kedekatan dengan kekuasaan pusat, yang secara psikologis dapat mengganggu persepsi dominasi lama.

Namun demikian, Arifki melihat bahwa ancaman utama terhadap PDIP di Jawa Tengah tidak bisa dibaca tunggal. Di balik ekspansi PSI, terdapat Partai Gerindra sebagai partai penguasa yang memiliki sumber daya, jejaring elite, dan kontrol agenda nasional. Dalam pembacaan ini, PSI lebih tepat dipahami sebagai variabel baru, sementara Gerindra tetap menjadi faktor struktural yang menentukan.

“PSI menguji ruang simbolik, Gerindra menguji struktur kekuasaan. Keduanya berbeda level, tetapi saling berkaitan,” ujar Arifki.

Rakernas PDIP menjadi penting karena akan memperlihatkan prioritas respon politik partai. Jika Rakernas menekankan konsolidasi kader, penguatan basis akar rumput, dan komitmen terhadap Pilkada langsung, maka sinyalnya PDIP sedang memperkuat pertahanan struktural menghadapi kekuatan besar. Sebaliknya, jika narasi lebih diarahkan pada adu simbol dan citra, maka PSI kemungkinan dibaca sebagai lawan yang perlu direspons lebih cepat.

Arifki juga menilai, sikap PDIP di tingkat nasional akan sangat memengaruhi pembacaan ini. PDIP yang memilih oposisi tegas cenderung menjaga Jawa Tengah sebagai basis politik utama. Sebaliknya, jika PDIP masih membuka ruang kompromi nasional, maka fokus pertahanan daerah berpotensi terbagi, memberi ruang kompetisi yang lebih terbuka.

Menurut Arifki , Rakernas PDIP 2026 tidak semata berbicara tentang arah nasional menuju 2029, tetapi juga tentang bagaimana PDIP mengklasifikasikan ancaman politik di kandang sendiri. Apakah Jawa Tengah diperlakukan sebagai wilayah yang sudah aman, atau justru sebagai medan kontestasi baru yang menuntut strategi berbeda?

“Dalam politik, perubahan besar sering diawali bukan oleh kekalahan, tetapi oleh kelengahan membaca perubahan peta,” pungkasnya. ***

wwwwww