Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
14 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
2
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
Nasional
5 jam yang lalu
Bareskrim Polri Tetapkan Jenderal Listyo Sigit Tersangka Penyadapan Ilegal Presiden, Terancam 10 Tahun
3
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
12 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
4
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
5
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
6
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Kebut Pembangunan Simpang Sebidang, Pemkot Pekanbaru Pasang Lampu Jalan dan Pengatur Lalu Lintas Pintar
Home  /  Berita  /  Binawidya

Bantuan Malaysia Dinilai Kecil, Pernyataan Tito Picu Teguran dari Kuala Lumpur

Bantuan Malaysia Dinilai Kecil, Pernyataan Tito Picu Teguran dari Kuala Lumpur
Mantan Menteri Luar Negeri Malaysia, Tan Sri Rais Yatim, saat melontarkan teguran yang sangat menohok terkait penerimaan bantuan kemanusiaan untuk bencana banjir Sumatera. (Foto: Tangkapan layar YouTube)
Jum'at, 19 Desember 2025 18:00 WIB

JAKARTA – Pernyataan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, terkait bantuan kemanusiaan Malaysia untuk korban banjir Aceh memicu gelombang reaksi di Negeri Jiran. Kali ini, sorotan datang dari tokoh senior Malaysia, Tan Sri Rais Yatim, yang secara terbuka menegur cara bertutur pejabat Indonesia tersebut.

Melalui sebuah video yang beredar luas dan menjadi perbincangan publik, Jumat (19/12/2025), mantan Menteri Luar Negeri Malaysia itu menilai komentar Tito tidak mencerminkan etika komunikasi antarnegara, terlebih dalam konteks bantuan kemanusiaan.

"Reaksi menteri negara tetangga yang menyatakan donasi US$60.000 itu kecil adalah hal yang tidak sopan," ujar Rais Yatim.

Polemik ini berawal dari pernyataan Tito dalam siniar Suara Lokal Mengglobal yang tayang di YouTube, Sabtu (13/12/2025). Dalam siniar tersebut, Tito menyebut bantuan medis dari Malaysia senilai kurang dari Rp1 miliar atau sekitar US$60.000 sebagai jumlah yang tidak seberapa dibandingkan dengan anggaran besar yang dimiliki Indonesia.

Ucapan itu kemudian menuai perhatian luas di Malaysia. Rais menilai, bantuan kemanusiaan tidak semestinya diukur dari besaran nominal, melainkan dari niat dan empati yang menyertainya.

"Walaupun bantuan itu hanya bernilai 60 ringgit, seharusnya tetap diterima dengan rasa syukur," katanya.

Ia menambahkan, pejabat publik memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga perasaan negara tetangga dalam setiap pernyataan. "Menteri yang bersangkutan diharapkan belajar lebih dulu tentang ucapan, komunikasi, dan bahasa kepada tetangga," sambungnya.

Dalam penjelasannya, Rais Yatim turut mengingatkan hubungan panjang Indonesia dan Malaysia yang selama ini terjalin atas dasar kesamaan budaya. Ia membandingkan situasi saat ini dengan sikap Presiden Soeharto di masa lalu yang dikenal selalu menghargai bantuan, sekecil apa pun bentuknya.

Ia mengenang saat negara bagian Johor pernah mengirim bantuan sederhana berupa beras dan kebutuhan pokok ke Jakarta yang dilanda musibah. Bantuan tersebut tetap disambut dengan ucapan terima kasih, tanpa mempertanyakan nilainya.

"Berbeda dengan sekarang, ketika Menteri Dalam Negeri Indonesia menyatakan bantuan itu hanya sekelumit. Mengapa sulit untuk mengucapkan terima kasih?" ungkapnya.

Rais Yatim menekankan bahwa nilai sopan santun, empati, dan rasa syukur merupakan warisan budaya yang sama-sama dimiliki Indonesia dan Malaysia. Ia berharap nilai tersebut tetap dijaga dalam hubungan kedua negara.

"Mari kembali pada akar budi pekerti kita. Ketika orang memberi, kita merasa bersyukur," ujarnya.

Pernyataan Rais Yatim tersebut menambah perhatian publik terhadap pentingnya kehati-hatian pejabat dalam berbicara di ruang publik, terutama saat menyangkut isu kemanusiaan dan relasi diplomatik antara dua negara serumpun. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Kuliner, Warga Bertuah, Balai Kota, Parlemen, Binawidya
wwwwww