Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Putusan MA Anulir Suket Gibran Rakabuming, Publik Soroti Ancaman Pemakzulan Wapres
Nasional
15 jam yang lalu
Putusan MA Anulir Suket Gibran Rakabuming, Publik Soroti Ancaman Pemakzulan Wapres
2
Sasar Sarang Narkoba, Tim Gabungan Polresta Pekanbaru Jaring Empat Pengunjung Kelab Malam
Kabar Bertuah
17 jam yang lalu
Sasar Sarang Narkoba, Tim Gabungan Polresta Pekanbaru Jaring Empat Pengunjung Kelab Malam
3
Drama Epic Comeback, Tandukan Pramudya dan Penalti Gamaroni Bawa PSPS Pekanbaru Tekuk PSGC 2-1
Sepakbola
8 jam yang lalu
Drama Epic Comeback, Tandukan Pramudya dan Penalti Gamaroni Bawa PSPS Pekanbaru Tekuk PSGC 2-1
4
Tumpukan Sampah Jadi Biang Kerok Meluapnya Drainase di Ruas Jalan Pekanbaru
Kabar Bertuah
21 jam yang lalu
Tumpukan Sampah Jadi Biang Kerok Meluapnya Drainase di Ruas Jalan Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Jalur Putus dan Stok Menipis, Warga Aceh Hadapi Krisis Tanpa Kepastian Bantuan

Jalur Putus dan Stok Menipis, Warga Aceh Hadapi Krisis Tanpa Kepastian Bantuan
Daerah terdampak banjir Aceh mulai kekurangan logistik imbas bencana banjir dan longsor sehingga akses jalan dan jembatan terputus.
Jum'at, 28 November 2025 09:04 WIB
ACEH – Meluasnya banjir dan longsor di Aceh tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga memutus jalur distribusi yang menjadi urat nadi pasokan logistik. Di banyak wilayah, warga menunggu bantuan yang tak kunjung tiba karena jalan dan jembatan terputus diterjang derasnya arus.

Aceh Tengah dan Bener Meriah menjadi dua wilayah yang paling merasakan dampak terputusnya konektivitas. Jalan utama yang biasa digunakan untuk mengangkut bantuan kini tertimbun material longsor dan tak dapat dilalui. Kondisi ini membuat pemerintah daerah bekerja dalam ruang gerak terbatas.

Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, mengungkapkan bahwa semakin banyak titik yang tidak dapat dijangkau tim di lapangan. Bantuan yang tersedia pun mulai menipis.
"Kami kekurangan logistik, apalagi kami ini terisolasi. Akses ke Bireuen dan Aceh Utara terputus," katanya, Kamis (27/11).

Di Aceh Tengah, situasi serupa terjadi. Bupati Haili Yoga menyebutkan bahwa jalur utama menuju Bireuen longsor sehingga seluruh jalur distribusi praktis tertutup. Wilayah tersebut kini mengandalkan stok yang tersisa di gudang penyimpanan lokal.
"Aceh Tengah hari ini memang sudah tidak bisa lagi diakses. Jalan ke Bireuen longsor, daerah kami sudah tertutup," ujarnya.

Tekanan juga dirasakan warga Aceh Singkil. Kecamatan Singkil sepenuhnya terisolasi setelah akses jalan terendam dan tak dapat ditembus. Anwar, seorang warga, menggambarkan kondisi yang semakin mengkhawatirkan ketika barang kebutuhan pokok mulai hilang dari warung-warung sembako.

"Beras, telur dan mie sudah susah dicari di Singkil. Barang sembako masuk pun tidak ada," ungkapnya.

Sejumlah desa lain di Aceh Utara dan Bireuen juga mengalami isolasi akibat tingginya air dan jalur berlumpur yang tak bisa dilalui kendaraan. Bagi warga, bertahan berarti bergantung pada apa yang tersisa di rumah sambil menunggu jalur bantuan kembali terbuka.

Hingga kini, banjir masih menggenangi 16 kabupaten dan kota di Aceh. Wilayah terdampak mencakup Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Subulussalam, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Timur, Langsa, Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Aceh Utara, dan Aceh Selatan. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:Warga Bertuah
wwwwww