Home  /  Berita  /  Kampus

Tayangan XPOSE Trans7 Tuai Kecaman Nasional, Pesantren Tuntut Etika Media

Tayangan XPOSE Trans7 Tuai Kecaman Nasional, Pesantren Tuntut Etika Media
Selasa, 14 Oktober 2025 15:48 WIB

JAKARTA – Kontroversi tayangan program XPOSE di Trans7 memicu gelombang kemarahan publik, terutama dari kalangan pesantren dan tokoh keagamaan. Tayangan yang menampilkan narasi negatif tentang kehidupan santri itu dinilai melecehkan kiai dan merendahkan tradisi pesantren yang telah berakar kuat di Indonesia.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH M Cholil Nafis, menyebut tayangan tersebut tidak etis dan mencerminkan ketidaktahuan terhadap nilai luhur pesantren.

“Video itu tendensius dan jauh dari etika jurnalistik. Jika benar berasal dari Trans7, maka stasiun televisi itu harus meminta maaf dan memberi klarifikasi kepada publik,” tegasnya, Selasa (14/10/2025).

Menurutnya, pesantren merupakan benteng moral bangsa dan pusat pendidikan yang membentuk karakter generasi Islam di Indonesia. “Pesantren adalah wujud harmoni antara ajaran Islam dan budaya Nusantara. Jangan dilecehkan hanya demi sensasi,” ucapnya.

Kemarahan publik bermula dari potongan video XPOSE yang viral di media sosial dengan narasi: “Santrinya minum susu aja kudu jongkok, emang gini kehidupan di pondok?” Tayangan tersebut dianggap memprovokasi dan memberi citra buruk terhadap kehidupan santri.

Di platform X (Twitter), tagar #BoikotTrans7 langsung menduduki jajaran trending topic. Santri, alumni, hingga organisasi pesantren ramai menyerukan boikot terhadap Trans7. Akun @SerambiLirboyo menulis:

“Pesantren bukan tempat hinaan. Media besar seharusnya lebih peka dan tidak mempermainkan martabat ulama.”

Protes juga datang dari Ikatan Keluarga Alumni Asshiddiqiyah (IKLAS) yang menilai Trans7 gagal menjaga etika penyiaran publik. Dalam pernyataannya, mereka menuntut permintaan maaf resmi dalam waktu 24 jam.

“Jika Trans7 tidak segera bertanggung jawab, kami akan menempuh jalur hukum dan mendesak Dewan Pers menghentikan program tersebut,” tulis pernyataan resmi IKLAS.

Sementara itu, Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Indramayu menegaskan sikap tegas terhadap stasiun televisi tersebut. Ketua FPP, KH Azun Mauzun, menyatakan tayangan XPOSE telah mencoreng nama baik lembaga pendidikan Islam.

“Kami menuntut permintaan maaf terbuka dari Trans7 di seluruh media nasional. Jika tidak, kami mendorong pencabutan izin tayang program itu,” ujarnya.

Azun juga meminta aparat dan lembaga penyiaran segera menindak pelanggaran tersebut agar tidak menimbulkan preseden buruk bagi dunia penyiaran Indonesia.

“Media harus belajar menghormati kiai dan pesantren. Jangan sampai konten hiburan justru menciptakan luka sosial,” tambahnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Trans7 belum mengeluarkan pernyataan resmi. Publik menanti langkah konkret dari stasiun televisi tersebut untuk meredakan polemik yang telah meluas ke berbagai daerah. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Kampus
wwwwww