Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
Balai Kota
24 jam yang lalu
Kejar Target 60 Kilometer, Pemkot Pekanbaru Kebut Perbaikan Jalan Rusak di 15 Kecamatan
2
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
Balai Kota
23 jam yang lalu
Proyek Pelebaran Simpang SKA Pekanbaru Dikebut, Wali Kota Agung Nugroho Minta Warga Bersabar
3
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
Kabar Bertuah
20 jam yang lalu
Tim Gabungan Gerebek Sarang Narkoba Pangeran Hidayat dan Kampung Dalam, Lima Terduga Pengedar Diringkus
4
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
Balai Kota
24 jam yang lalu
Ubah Lapangan Jalan Belimbing, Pemkot Pekanbaru Bangun Sport Center Mini Rampung Akhir 2026
5
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
Kabar Bertuah
15 jam yang lalu
Warga Keluhkan Macet Tuanku Tambusai Pekanbaru, Dinas PUPR Riau Kebut Proyek Pelebaran Jalan
6
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Balai Kota
3 jam yang lalu
Wako Pekanbaru Ultimatum Jajaran OPD, Pelayanan Publik dan Keluhan Warga Wajib Direspons Cepat
Home  /  Berita  /  Balai Kota

Smart TV untuk 330 Ribu Sekolah, Risiko Mubazir Jika Listrik Tak Merata

Smart TV untuk 330 Ribu Sekolah, Risiko Mubazir Jika Listrik Tak Merata
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari saat ditemui di Senayan, Jakarta, Sabtu (20/09/2025). (dokumentasi: inilah.com/ harris muda)
Sabtu, 20 September 2025 15:56 WIB
JAKARTA – Program ambisius Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan distribusi 330 ribu smart TV ke sekolah hingga akhir tahun menuai kritik. Sejumlah kalangan menilai, tanpa kesiapan listrik dan jaringan internet di daerah, pengadaan perangkat canggih ini berisiko tidak efektif dan hanya membuang anggaran.

Kepala Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, menegaskan urusan teknis sudah menjadi kewenangan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Ia mengklaim pemerintah telah memperhitungkan berbagai kendala, termasuk akses listrik di sekolah-sekolah pelosok.

"Tentu nanti teknisnya akan dikembalikan kepada kementerian pendidikan ya, Kemendikdasmen. Pasti itu sudah diperhitungkan," ujarnya di Senayan, Jakarta, Sabtu (20/9/2025).

Namun, di sisi lain, Qodari tak menutup mata bahwa masih ada ribuan sekolah yang belum teraliri listrik. Ia menyebut energi surya bisa menjadi solusi alternatif. "Harus ada cara, termasuk terakhir itu, kalau saya tidak salah, diusahakan agar listriknya bisa pakai tenaga surya," tambahnya.

Meski demikian, sejumlah pengamat pendidikan mempertanyakan efektivitas langkah ini. Mereka menilai, jika infrastruktur dasar belum diperbaiki, maka smart TV berpotensi sekadar menjadi hiasan di ruang kelas. "Jangan sampai sekolah dikasih perangkat mahal, tapi hanya jadi pajangan karena listriknya tidak ada," kata seorang pemerhati pendidikan.

Presiden Prabowo sebelumnya mengumumkan lonjakan target distribusi dari 100 ribu menjadi 330 ribu sekolah. Ia juga berencana menambah jatah tiga layar pintar per sekolah mulai 2026. Menurutnya, program ini akan mendukung pembelajaran jarak jauh di wilayah yang kekurangan guru.

Namun di lapangan, masalah dasar pendidikan masih membayangi: akses listrik, jaringan internet, serta kualitas tenaga pengajar. Tanpa penyelesaian di tingkat fundamental, pengadaan smart TV berisiko menjadi proyek setengah jalan yang tidak menyentuh kebutuhan riil sekolah-sekolah terpencil. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:Inilah.com
Kategori:Kabar Bertuah, Kampus, Balai Kota, Hukum
wwwwww