Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Diduga Gagal Menyalip di Jalan Siak II Pekanbaru, Truk Hantam Sepeda Motor hingga Pengendara Tewas
2
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Selamatkan Pohon Peneduh Jalan, Bapenda Pekanbaru Copot Paksa Ratusan Spanduk Ilegal
3
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
Balai Kota
22 jam yang lalu
Ringankan Beban Orang Tua, Pemkot Pekanbaru Salurkan 19.900 Seragam Sekolah Gratis
4
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
Balai Kota
22 jam yang lalu
Cair Sebelum Tanggal 10, Wako Agung Percepat Pembayaran Gaji dan TPP ASN Pemkot Pekanbaru
5
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Kabar Bertuah
1 jam yang lalu
Kecewa Kebijakan Pusat, Puluhan Mitra Pengemudi Tutup Paksa Kantor Maxim Pekanbaru
Home  /  Berita  /  Keuangan

Hak Monopoli PLN Tak Sejalan dengan Laporan Keuangan yang Merosot

Hak Monopoli PLN Tak Sejalan dengan Laporan Keuangan yang Merosot
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo.
Rabu, 30 Juli 2025 08:10 WIB

JAKARTA – Ketika masyarakat diburu tenggat pembayaran listrik dan harus menghadapi alarm token nyaring jika lupa isi pulsa, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo justru diduga menikmati perjalanan ke luar negeri bersama keluarga menggunakan dana perusahaan. Di tengah itu, keuangan PLN kian terpuruk, dengan utang menumpuk hingga Rp711,2 triliun.

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi menyebut kondisi ini sebagai ironi publik. “Mereka yang pegang monopoli, malah makin gemuk utangnya. Rakyat kalau telat sehari saja bayar, bisa kena denda atau lampunya langsung padam. Sementara bos PLN diduga plesiran ke luar negeri dengan dana negara,” ujarnya, Selasa (29/7/2025).

Dari catatan CBA, utang PLN naik Rp56,2 triliun hanya dalam setahun. Artinya, ada tambahan beban Rp156,7 miliar setiap hari yang harus ditanggung perusahaan. Sementara laba PLN anjlok dari Rp22 triliun pada 2023 menjadi Rp17,7 triliun di tahun 2024.

"Kondisi ini jelas memperlihatkan ada yang salah urus. Di tangan Dirut sekarang, PLN seperti perahu bocor," tambah Uchok.

Ia juga menyoroti dugaan perjalanan pribadi Darmawan ke Melbourne, Australia, yang dilakukan saat masa siaga Natal dan Tahun Baru. Perjalanan itu disebut dilakukan bersama keluarga dan dibiayai oleh PLN.

“Ini bukan soal angka saja, tapi soal etika dan kepantasan. Kalau benar dilakukan saat kondisi keuangan perusahaan sedang morat-marit, ini jadi preseden buruk,” tegasnya.

Uchok mendesak Kejaksaan Agung segera melakukan penyelidikan menyeluruh terkait dugaan penyalahgunaan anggaran perjalanan dinas tersebut.

Upaya media mengonfirmasi dugaan itu kepada Sekretaris Perusahaan PLN, Alois Wisnuhardana belum membuahkan hasil. Pesan melalui aplikasi WhatsApp tak kunjung dibalas. ***

Editor:Muhammad Rafdinal Adrianto
Sumber:inilah.com
Kategori:Keuangan
wwwwww