Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
Gelanggang
11 jam yang lalu
Rakernas IMI 2026 di Pekanbaru, Agung Nugroho Incar Peluang Ekonomi Lewat Tuan Rumah Balapan
2
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
Balai Kota
10 jam yang lalu
Hindari Macet Total Awal 2027, Pemkot Pekanbaru Siapkan Jalan Alternatif Proyek Flyover Panam
3
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
Kabar Bertuah
13 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Catat Inflasi Terendah se-Riau, Harga Cabai Merah Jadi Sorotan Utama
4
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
Kabar Bertuah
12 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Gesa Pemasangan PJU Simpang MTQ, APILL Cerdas Mulai Berfungsi
5
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
Balai Kota
14 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Lanjutkan Program Seragam Sekolah Gratis 2027, Anggaran Capai Rp13 Miliar
6
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Balai Kota
16 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Latih Nakes Puskesmas Jadi Pendamping Posyandu, Dukung Penerapan Standar Pelayanan Minimal
Home  /  Berita  /  Warga Bertuah

Banjir Sumatera Kembali Disorot, Aparat Diminta Kejar Aktor Besar Pembalakan Liar

Banjir Sumatera Kembali Disorot, Aparat Diminta Kejar Aktor Besar Pembalakan Liar
Senin, 15 Desember 2025 12:30 WIB

JAKARTA – Gelombang banjir di sejumlah wilayah Sumatera kembali memicu sorotan terhadap praktik pembalakan liar. Aparat penegak hukum diminta tidak mengulang pola lama dengan hanya menindak pelaku lapangan, sementara aktor besar yang diduga berada di balik kejahatan lingkungan tersebut dibiarkan luput dari jeratan hukum.

Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Indonesia, Ray Rangkuti, menegaskan penanganan pembalakan liar harus menyentuh seluruh rantai kejahatan. Menurutnya, pengalaman penegakan hukum sebelumnya menunjukkan kecenderungan berhenti di level bawah tanpa menyentuh dalang utama.

“Saya khawatir kasus pagar bambu di laut Tangerang akan kembali terulang. Ada penegakan hukum, tapi hanya sampai level bawah. Itu pun sampai sekarang seperti mandeg alias jalan di tempat,” ujar Ray, Senin (15/12/2025).

Ia menilai penegakan hukum terhadap kejahatan lingkungan belum berjalan maksimal. Kondisi tersebut, katanya, mirip dengan upaya pemberantasan korupsi yang sering kali hanya menjerat pelaku kecil.

“Saya kira penegakan hukum terhadap pelaku kejahatan lingkungan belum sepenuhnya bekerja dan optimal. Polanya 11-12 dengan pemberantasan korupsi,” tegas Aktivis 1998 jebolan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Ray juga menyoroti minimnya keseriusan aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, dalam mengalokasikan perhatian dan sumber daya untuk membongkar kejahatan lingkungan yang terorganisir. Padahal, pembalakan liar dinilainya melibatkan jaringan luas dan kepentingan ekonomi besar.

Di sisi lain, ia melihat kecenderungan kriminalisasi terhadap pejuang lingkungan. Menurutnya, dalih hukum kerap digunakan secara terkesan dipaksakan untuk menjerat aktivis yang bersuara kritis.

“Malah pejuang lingkungan yang banyak dikriminalisasi dengan dalih macam-macam. Terakhir, beberapa aktivis lingkungan ditetapkan sebagai tersangka akibat peristiwa Agustus 2025 lalu,” pungkasnya. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:gelora.co
Kategori:Warga Bertuah, Balai Kota, Parlemen
wwwwww