Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Melangkah ke Panggung Nasional, Remaja Asal Bukittinggi Haura Isra Fitriani Wakili Sumatera Barat di Bali
Nusantara
22 jam yang lalu
Melangkah ke Panggung Nasional, Remaja Asal Bukittinggi Haura Isra Fitriani Wakili Sumatera Barat di Bali
2
Wali Kota Pekanbaru Gandeng Kementerian Pekerjaan Umum Revitalisasi Kawasan Danau Buatan
Kabar Bertuah
23 jam yang lalu
Wali Kota Pekanbaru Gandeng Kementerian Pekerjaan Umum Revitalisasi Kawasan Danau Buatan
3
Ajang Kencana Fight 2026 Resmi Dibuka, Wali Kota Agung Nugroho Dorong Petarung Jalanan Raih Prestasi di Ring
Gelanggang
23 jam yang lalu
Ajang Kencana Fight 2026 Resmi Dibuka, Wali Kota Agung Nugroho Dorong Petarung Jalanan Raih Prestasi di Ring
Home  /  Berita  /  Kuliner

Krisis Nepal Memuncak, Militer Didorong Ambil Alih Usai Presiden dan PM Resign

Krisis Nepal Memuncak, Militer Didorong Ambil Alih Usai Presiden dan PM Resign
Presiden Nepal Ram Chandra Poudel mengundurkan diri beberapa jam setelah PM KP Sharma Oli mundur, menjadikan negara Asia Selatan itu berdiri tanpa pemimpin.
Rabu, 10 September 2025 06:48 WIB

JAKARTA  – Nepal dilanda kekosongan kekuasaan setelah Presiden Ram Chandra Poudel mengumumkan pengunduran diri hanya beberapa jam usai Perdana Menteri KP Sharma Oli mundur, Selasa (9/9/2025). Dua keputusan besar ini diambil di tengah gelombang protes besar-besaran yang berubah menjadi kerusuhan mematikan.

Media lokal Kathmandu Post melaporkan, militer kini bergerak cepat mengevakuasi para pejabat pemerintah dengan helikopter dari kawasan Bhaisepati ke barak militer. Panglima Militer Nepal, Ashok Raj Sigdel, disebut tengah menyiapkan pernyataan resmi, menandakan peluang besar militer mengambil kendali sementara.

Rumah dinas Poudel tak luput dari amukan massa. Aksi anarkis yang terjadi setelah kerumunan demonstran membakar dan menjarah juga menimpa kediaman PM Oli serta sejumlah menteri. Gedung Parlemen kini dijaga ketat dengan pengamanan berlapis. 

Gelombang protes yang dipimpin generasi muda Nepal, mayoritas pelajar dan mahasiswa, bermula dari tuntutan antikorupsi. Namun, amarah massa makin membara setelah pemerintah memblokir puluhan aplikasi media sosial yang dianggap sebagai saluran komunikasi mereka.

Bentrok besar pada Senin (8/9) menjadi puncak krisis, menewaskan 19 orang dan melukai ratusan lainnya. Sejak itu, desakan agar elite politik mundur semakin tak terbendung.

Kini Nepal menghadapi situasi genting: tanpa Presiden dan Perdana Menteri, negara berada di bawah bayang-bayang intervensi militer. Pertanyaan besar muncul—apakah krisis ini akan berujung pada pemerintahan transisi sipil atau menandai dimulainya era baru kekuasaan militer?. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:cnnindonesia.com
Kategori:Kuliner
wwwwww