Terpopuler 24 Jam Terakhir
1
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
Kabar Bertuah
19 jam yang lalu
Pemkot Pekanbaru Aspal Jalan Kebun Tuah Madani, Warga Bersyukur Penantian 15 Tahun Jadi Kenyataan
2
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
9 jam yang lalu
Pintu Tol Dalam Kota Pekanbaru akan Sandang Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
3
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
Kabar Bertuah
5 jam yang lalu
Bentang 13,5 Kilometer, Tol Dalam Kota Pekanbaru Resmi Gunakan Nama Sultan Abdul Jalil Muazamsyah
4
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
Tenayan Raya
4 jam yang lalu
Modus Tukar Gembok, Tiga Terduga Pencuri Kuras Barang Berharga di Toko Tenayan Raya Pekanbaru
5
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
Kabar Bertuah
7 jam yang lalu
Ketum IMI Pusat Moreno Soeprapto Turun Gunung, Pekanbaru Jadi Tuan Rumah Rakernas 2026
6
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Kabar Bertuah
4 jam yang lalu
Sidak Tiga SPBU di Pekanbaru, Disperindag Pastikan Tak Ada Kecurangan Takaran BBM
Home  /  Berita  /  Pasar & Niaga

PHK Terjadi di Banyak Sektor, Purbaya Soroti Permintaan yang Melemah

PHK Terjadi di Banyak Sektor, Purbaya Soroti Permintaan yang Melemah
Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa
Selasa, 23 Desember 2025 21:10 WIB

JAKARTA – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi di berbagai sektor industri dinilai tidak bisa diselesaikan dengan menambah stimulus fiskal. Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menyebut penyebab utama PHK berasal dari lemahnya permintaan serta terbatasnya akses modal kerja yang dihadapi dunia usaha.

“Enggak ada tambahan stimulus. PHK itu terjadi ketika permintaan melemah sekali. Itu terjadi sekitar 10 bulan, 9 bulan tahun lalu,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (23/12/2025).

Ia menjelaskan, penambahan stimulus tidak akan banyak membantu jika pasar belum sepenuhnya pulih. Tekanan paling besar, katanya, dirasakan sektor padat karya yang membutuhkan pembiayaan besar agar tetap beroperasi.

Menurut Purbaya, perusahaan yang kesulitan mengakses modal kerja akan sulit melanjutkan produksi, meski permintaan mulai menunjukkan perbaikan. “Kalau perusahaan tidak punya akses ke modal kerja, tentu tidak bisa berkembang,” katanya.

Pemerintah, lanjutnya, kini lebih fokus menyelaraskan kebijakan fiskal dengan sektor keuangan agar pembiayaan bagi pelaku usaha tetap tersedia dan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan, Indah Anggoro Putri, mengungkapkan industri tekstil masih menjadi penyumbang terbesar PHK sepanjang 2025. Jumlah pekerja yang terdampak hampir mencapai 80 ribu orang.

“Industri tekstil ini masih jadi kontributor utama PHK, kita sudah hampir 80 ribu orang PHK di 2025 ini,” ujarnya. 

Ia menyebut PHK tetap terjadi meski pemerintah telah menyalurkan berbagai insentif ketenagakerjaan untuk sektor padat karya. Selain itu, masih banyak pekerja yang kehilangan pekerjaan belum bisa mengakses program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).

Menurut Indah, pembenahan implementasi JKP dan penguatan akses modal kerja bagi industri dinilai lebih mendesak dibandingkan penambahan stimulus fiskal baru. ***

Editor:M Rafdinal Adrianto
Sumber:republika.co.id
Kategori:Pasar & Niaga, Keuangan
wwwwww